Feb 6, 2020

Grup Self Healing adalah keluarga yang tepat!



Tahap selanjutnya dalam sesi kuliah online yang saya ikuti kali ini cukup mengejutkan. Ternyata kita bergabung membentuk family gathering. Wah, penuh kejutan memang. Semua mahasiswi sibuk menentukan mau masuk ke keluarga yang mana, tepat tidak, eh kok ada yang menarik, lalu gabung di beberapa grup dan memutuskan mana yang paling tertarik.

Jika mengikuti peta jalan yang sudah dibuat saya, maka sayang hendaknya bergabung ke menejemen waktu sebagai prioritas pertama dan prioritas kedua adalah menejemen emosi. Namun pada perjalanan pekan kemarin saya menemukan banyak makanan tentang menejemen waktu dan merasa "oh, ini teori yang sebenarnya sudah banyak saya paham, tapi belum bisa mengaplikasikannya. Bahkan ada beberapa perakatan yang sudah saya siapkan beberapa bulan bahkan tahun lalu".

Pekan pemilihan keluarga untuk belajar membuat saya berpikir lagi, mengapa bisa tidak bisa menerapkan? Apa kendalanya? Atau jangan-jangan ada hal lain yang harus dibereskan terlebih dahulu?

Sampailah saya pada kesimpulan, bahwa yang seharusnya diprioritaskan adalah emosi. Selama ini emosi cepat sekali berubah, bahkan dalam hitungan detik. Yang awalnya senang, tiba-tiba menjadi kecewa atau marah karena hal kecil bahkan hanya dengan membaca dan mengingat sesuatu yang menyedihkan seketika mood langsung berubah.

Akhirnya saya putuskan untuk bergabung ke keluarha menejemen emosi. Ternyata keluarga ini sangat banyak peminatnya sehingga dibagi dalam beberapa kelompok. Kembali "kegalauan" saya muncul. Saya harus gabung kemana? Berpikir saya seharian. Dan tiba-tiba sadar bahwa ada yang sesak di dalam dada, sesuatu yang ingin dikeluarkan tapi tidak bisa. Sesuatu yang sering membuat emosi berubah secepat jetcoaster. Ada yang perlu saya sembuhkan. Tidak bisa saya selalu merasa bersalah, bingung, takut, dan cemas.

Bismillah. Saya bergabung di kelompok Self Healing. Satu keluarga yang berupaya keluar dari keresahan yang dirasakan dalam diri. Berupaya menjadi ibu, istri, dan perempuan bahagia yang mencetak generasi bahagia. Kami ada pada satu visi untuk "waras" hati dan pikiran untuk masa depan. Sekarang di sini lah saya. Alhamdulillah, nyaman....

Grup Self Healing membahas tentang apa saja penyebab ketidakbahagiaan dalam diri dan bagaimana solusinya. Ada beberapa tipe seperti anxiety, innerchild, trauma, dan banyak istilah lain. Beberapa dari kami sepakat bahwa istilah-istilah ini cukup sulit untuk dipelajari semua. Yang terpenting adalah cari akar masalah dan coba kita lepaskan.

Beberapa tips yang bisa dilakukan adalah sadar nafas, rileks, berpikiran positif, forgiveness therapy, jurnal syukur, dan beberapa cara lain. Cara yang paling mudah adalah sadar nafas. Ketika emosi berubah dengan cepat, bisa karena banyaknya pekerjaan, kejadian, trauma, ingatan, dan lain-lain yang tidak menyenangkan, maka coba ambil jeda dengan tarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Sadari proses mengambil nafas dan mengeluarkan nafas. Rasakan.... Otot akan rileks. Tubuh akan rileks. Teknik paling cepat dan paling mudah dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dan ternyata benar, ini sangat bermanfaat saya terapkan.

Saat ini saya masih terus belajar dalam grup self healing. Banyak hal yang bisa dipelajari. Tetap berusaha melakukan yang terbaik dengan terus berupaya melakukan self healing. Saya berharap kecemasan, ketakutan, dan perasaan bersalah bisa berkurang sehingga bisa menjadi ibu bahagia.

Menjadi ibu bahagia dengan tetap menjaga kewarasan merupakan materi yang disampaikan mbak Farda sebagai mahasiswi terpilih untuk go live. Dan saya benar-benar berharap suatu saat bisa menjadi ibu bahagia yang benar-benar bahagia dari dalam hati dan pikiran :)



Surakarta, Februari 2020

No comments:

Post a Comment

Terbaru

You are enough...

Ya, you are enough... Setiap orang punya hal yg diperjuangkan. Kita tidak bisa langsung menilai tentang pencapaian setiap orang hanya m...

Populer