Feb 25, 2020

Berbagi Potluck



Kegiatan minggu ini dalam #buncek adalah berbagi potluck favorit atau teman-teman sering sebut tukar kado. Wah, seru juga ini. Sayapun juga ikut cari-cari teman virtual untuk memberikan kado sambil deg-degan dapat kado gak ya? hiihihi

Kado dari mbak Dwi Nur Tirta tentang tulisan beliau. Ternyata mbak Dwi ini suka menulis. Boleh intip-intip blog mbak Dwi di https://serpihancahayaair.blogspot.com 
Kemudian saya mengirimkan tulisan saya di blog ini. Kebetulan mbak Dwi sedang fokus belajar kerumahtanggaan, jadi saya membagikan cerita kegiatan ibu rumah tangga di negeri sakura tahun lalu http://www.pondokmumpuni.com/2019/04/puasa-di-negeri-sakura.html

Kemudian ada mbak Ummu Sofwa. Saya membagikan 2 artikel tentang menjemen waktu. dan mbak Sofwa menerima dengan hati potluck dari saya. Mbak Sofwa juga mengirimkan ke saya artikel tentang melatih emosi anak :) Senang sekali menerimanya. Bagus materinya tentang bagaimana kita mengenali anak dan yang yang jelas anak adalah cerminan orang tua, jadi ketika emosi anak meledak atau sesuatu yang tidak baik maka kita harus mengintrospeksi diri.

Saya juga mengirimkan potluck ke mbak Ai Santiani tentang gaya belajar anak http://www.pondokmumpuni.com/2018/12/memahami-gaya-belajar-anak.html. Ini saya ambil dari blog saya. Mbak Ai sedang berencana ber-Home Schooling untuk anak-anaknya. Jadi saya harap artikel ini bermanfaat untuk memahami tentang gaya belajar anak, walaupun hanya sedikit. dan Mbak Ai menerima senang hati, bahkan saya juga mendapat kado balik berupa materi emergency first. Ah, mungkin mbak Ai tahu kalau saya panikan jadinya perlu paham tentang emergency first. Makasih mbak Ai....


Mbak Titik adalah teman virtual yang senang kalau diajak ngobrol. Siang tadi saya dikirim tentang mengelola emosi pada ibu karya Jayaning Hartami. Dikirim video, tapi muter terus kata mbak Titik. Sayapun diminta menyediakan kopi agar sabar menunggu paket video ini, hehehe....
Saya mengirimkan artikel tentang menejemen waktu karena mbak Titik sedang fokus di menejemen waktu. 

Senang banget ternyata mbak Tri Budi memberikan kado untuk saya. Dibungkus rapi dan cantik. Ah, saya merasa terharu. Kadonya berisi teknik pernafasan oleh Reza Gunawan dengan nafas rileks 478. Jika mengalami kesulitan tidur, teknik ini juga bisa jadi solusi. Berikut hitungannya:
Selama 4 hitungan mengambil nafas dari hidungSelama 7 hitungan berhenti bernafas/menahan nafasSelama 8 hitungan menghembuskan nafas dari mulut dengan mengeluarkan suara ha (seperti berbisik tapi mulut terbuka)
Alhamdulillah ada yang mengirimkan saya potluck atau kado favorit. Terharu lho. Sy minta maaf karena sebagian ada potluck yang beli dan itupun berupa artikel dari jurnal atau karya ilmiah. Maafkan kreatifitas saya tidak baik, dan artikel ilmiah adalah ide saya karena terkait bidang yang digeluti sekarang, hehehe.

Terima kasih semua.
Senang ya ternyata berbagi itu. Bisa sama-sama belajar




Feb 18, 2020

Yuk, Camping!

Pada kelas Bunda Cekatan minggu ini, dibuka sesi camping. Kita diminta berkenalan dengan tetangga sebelah, mengenal lebih dekat teman setenda, teman jauh, bahkan bebas berkeliling mencari teman. Tujuannya agar kita makin dekat dan melatih kepercayaan diri serta mengaplikasikan (atau saya kira ada juga unsur promosi) ilmu yang kita temukan.

Saya celingukan mencari teman. Bagaimana cara memulai dengan adanya keterbatasan akses. Ya, kalau di hutan tidak ada sepeda, kita harus jalan kaki memang walau jalan menanjak dan curam! Akhirnya ada ide untuk menghubungi teman sekeluarga, tetangga, atau teman jauh melalui aplikasi telegram. Secara random saya menghubungi kurang lebih 15 orang dan ada sekitar 9 orang yang merespon namun 4 dari itu tidak melanjutkan respon, hehehe. Kemudian ada 2 yang menghubungi saya. Sedangkan 8 lainnya via WA. Berikut nih, teman kenalan camping saya:


Apa sih dipelajari dari kegiatan Camping Ground?

Kegiatan ini membantu saya menjadi lebih percaya diri. Saya mencoba berkenalan dengan teman baru. Kalimatpun disusun dengan baik agar teman baru tertarik. Beberapa teman yang tidak merespon pesan saya disebabkan pesan saya tidak terkirim. Saya pun belajar untuk menilai. Ketika ada pesan yang masuk kemudian minta data tanpa memberikan data terlebih dahulu itu cukup membuat kita merasa ingin mundur. Jadi dari sini saya belajar alangkah baiknya yang pertama minta berkenalan memperkenalkan diri dan grup favoritnya terlebih dahulu, tentu secara bertahap ya. Mulai dari minta kesediaan, nama, asal regional, grup, dan alasan.

Camping Ground ini juga membuat saya merasa seperti sales yang mempromosikan grup karena kita akan membanggakan kenapa grup kita layak untuk ditinggali. Teman baru diusahakan tertarik dan kita sama-sama berbagi informasi menarik.

Banyak yang saya dapatkan terkait mengapa teman ini suka di grupnya. Ada yang sebenarnya masih berusaha adaptasi, ada yang sudah bener-bener mantap dan mengaplikasikannya, ada yang senang karena resume grup yang rapi, cantik, dan informatif, ada juga karena adanya senior yang profesional! Seru sesi perkenalannya. Banyak ilmu dan informasi yang akhirnya membuat saya berani intip-intip grup tetangga.

Selanjutnya, Grup apa yang menjadi favorit nih?



Ini nih! Paling favorit versi kenalan saya adalah menejemen emosi dan berikutnya adalah menejemen waktu. Ada grup yang lain yaitu temanda, home schooling, portofolio, kerumahtanggaan, dan komunikasi produktif. Btw, karena kita belajar merdeka, dan merdeka belajar jangan diprotes bentuk diagram saya ya. Saya lebih suka tampilan warna-warni dari diagram lingkar ini. Diagram batang saya tadinya tidak berwarna, hehehe

Paling favorit masih menejemen emosi dan waktu karena menurut saya keduanya sama-sama penting dan mendesak. Dari sini bahkan saya melihat ada fenomena "syok" dimana kita cukup kaget ketika dihadapan menjadi ibu, istri, dan pribadi. Adaptasi yang diharapkan sudah terinstal dalam setiap perempuan ternyata tidak serta merta dapat langsung running. Perlu latihan dan pengkondisian. Semoga ke depannya kita dapat menjadi individu yang berkarakter kuat. Seperti yang dibahas pada diskusi kelompok kami bahwa semua akan berjalan dengan baik ketika emosi stabil. Berhentilah menggunakan kata-kata 'kurang iman' untuk ibu yang sedang belajar beradaptasi. Menjadi banyak peran tidak mudah. Dan dukungan lebih kami harapkan.

Terus semangat belajar!

Sragen, 18 Februari 2020

Feb 11, 2020

Tarik Nafas dan Rasakan ......



Ketika semua teori sudah dibaca dan aplikasinya belum bisa diterapkan, maka kita patut curiga kira-kira apa yang salah. Maka kita tilik kembali dalam diri sendiri. Meneliti ulang mengapa hati kita tidak bisa sepenuhnya menjalankan sebuah aktivitas. Kenapa pikiran kita melayang ke pikiran yang lain. Atau sering merasakan ketakutan yang membuat kita enggan bergerak maju.

Terkadang dengan mudahnya orang lain bilang,
"ah.. itu hanya masa lalu, lupakan saja"
"itu hanya kurang syukur"
"itu bukan masalah besar, semua sudah selesai"
Ya, sebagian besar orang memang bisa. Tapi sungguh sebagian yang lain belum bisa semudah itu. Baru kemarin saya membaca sebuah artikel tentang sangat besar arti sebuah pelukan. Bahkan ibu hendaknya memberikan pelukan ke anak minimal 5  kali sehari agar si anak merasa ada yang menyayangi. Fakta mengejutkan, dan bisa ditanyakan pada diri kita sendiri, kapan terakhir dipeluk dengan penuh kasih sayang oleh ibu kita. Beruntunglah kita yang sering mendapat pelukan ibu karena itu adalah obat mencegah kesedihan.

Pekan ini diskusi menarik di grup kecil kami. Sayangnya, gawai saya rusak. Jadi saya mengikuti setengah diskusi itu dan sebagian lain membaca dari referensi yang lain. Saya memilih untuk tidak pindah ke keluarga (grup) yang lain karena saya masih berpendapat bahwa ini lho yang harus diperbaiki dulu, baru ilmu yang lain masuk dengan lebih menyenangkan.

Saya merangkum ilmu self healing pekan ini sebagai berikut:

1. Sadar Nafas
Emosi bisa berubah dengan sangat cepat tanpa kita sadari. Berbagai pemicu emosi misalnya banyaknya pekerjaan, ada kejadian yang tidak diinginkan, trauma, ingatan, dan banyak hal lain. Yang harus dilakukan adalah mengambil jeda. Coba diam sesaat. Tarik nafas dalam-dalam. Sadari nafas Anda, bagaimana udara masuk ke hidung lalu mengalir ke tubuh. Paru-paru dan jantung bekerja. dan seterunya. Kita rasakan prosesnya. InsyaAllah otot akan rileks dan pikiran menjadi lebih tenang. Teknik ini yang paling cepat dan mudah dilakukan kapan saja dan dimana saja.

2. Berpikiran Positif
Kejadian tidak baik sedang terjadi, kita coba untuk tidak menyalahkan siapapun termasuk diri sendiri. Mencoba berpikiran positif. Kita refleksi apa yang terjadi, mengapa, dan bagaimana agar tidak terjadi lagi. Sambil pelan-pelan berkata pada hati "hai hati, terima kasih engkau bekerja dengan sangat baik. Engkau tidak perlu khawatir, kita akan baik-baik saja" sambil diketuk pelan. Ini salah satu hal yang menurut saya unik, tapi efektif.

3. Forgiveness Therapy
Memberikan maaf memang mudah terucap dari mulut, tapi tidak selamanya mudah di hati. Keinginan memaafkan besar tapi jauh dari lubuk hati paling dalam tidak bisa. Cukup sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Coba berbicara pada orang yang kita percaya, lepaskan sakit itu pelan-pelan. Yakinkan kalau ini tidak hanya baik untuk orang yang diberi maaf, tapi juga kelegaan hati yang tidak lagi memendam.

4. Jurnal Syukur
Secara kontinu, kita dapat menuliskan nikmat apa saja yang kita dapatkan minggu/hari ini. Menuliskannya membuat kita sadar betapa banyak hal yang harus disyukuri sehingga menatap masa depan adalah pilihan terbaik. Allah sayang pada kita. Sehingga tidak ada alasan mengapa kita tidak menyayangi diri sendiri.

5. Writing for healing
Menulis merupakan salah satu cara efektif untuk self healing. Pernah saya mengikuti kulwap menulis untuk self healing. Bisa dilakukan satu-satu trauma. Misalnya dengan atasan di kantor, maka tulis dulu namanya, tuliskan apa yang tidak disukai, mengapa, yang pada akhirnya kita tuliskan sifat baiknya yang membuat kita bisa memaafkannya. Bahkan di berbagai komunitas self healing, membagikan pengalaman lewat tulisan membuat penulis lega dan pembaca turut mengambil sisi positifnya.

6. A-HA
A-HA adalah Amazing Holistic Awareness.
Holistic, dalam google translate di artikan sebagai “comprehension of the parts of something as intimately interconnected and explicable only by reference to the whole” yang diterjemahkan sebagai pemahaman dan penerapan secara menyeluruh atas beberapa aspek yang saling terkait.
Awareness, didefinikan sebagai knowledge or perception of a situation or fact”yaitu “kesadaran atau keinsyafan akan suatu kondisi”.
Jadi apa itu Holistic Awareness“kesadaran atau keinsyafan mengenai sebuah kondisi yang hanya terjadi bila kita memahami dan menerapkan masing-masing elemen atau aspek yang ada di dalamnya dengan baik.”
Unsur-unsur apa yang perlu di sadari dan diterapkan dengan baik itu? Ada tiga hal yaitu:
  • Self Awareness
  • Spiritual Awareness
  • Social Awareness
Materi ini saya dapat dari sebuah e-book yang berjudul "Semua Orang Bisa Self Healing" karya Agung Windriatmoko. Sebuah buku yang cukup mudah dibaca untuk pemula seperti saya.

Dalam buku itu juga dituliskan bahwa untuk mencapai kesehatan mental dan fisik secara optimal dapat dilakukan dengan cara:

  1. Merubah apa yang kita yakini mengenai siapa diri kita, mengenai hidup dan kehidupan
  2. Membebaskan diri dari beban-beban yang menjadi sebab tekanan hidup, stress dan munculnya penyakit-penyakit lainnya
  3. Memberikan makna positif atas setiap kejadian dan peristiwa yang menimpa dan menjalaninya dengan penuh hikmah
  4. Secara sadar memilih langkah-langkah yang diperlukan untuk melakukan transformasi diri

Gambaran Makan Besar Ilmu Pekan Ini

Teori terlihat mudah dan enak dibaca bukan? Tapi yakinlah, bahwa itu bukan tidak bisa dilakukan, hanya belum bisa dilakukan dan butuh sedikit waktu lagi untuk berubah. Saya yang sering sekali grogi, bingung, takut berlebih atas kesalahan kecil berusaha sedikit demi sedikit untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Mengapa? karena saya punya anak-anak yang harus saya jaga dengan penuh kasih sayang......


Sragen, 11 Februari 2020

Feb 6, 2020

Grup Self Healing adalah keluarga yang tepat!



Tahap selanjutnya dalam sesi kuliah online yang saya ikuti kali ini cukup mengejutkan. Ternyata kita bergabung membentuk family gathering. Wah, penuh kejutan memang. Semua mahasiswi sibuk menentukan mau masuk ke keluarga yang mana, tepat tidak, eh kok ada yang menarik, lalu gabung di beberapa grup dan memutuskan mana yang paling tertarik.

Jika mengikuti peta jalan yang sudah dibuat saya, maka sayang hendaknya bergabung ke menejemen waktu sebagai prioritas pertama dan prioritas kedua adalah menejemen emosi. Namun pada perjalanan pekan kemarin saya menemukan banyak makanan tentang menejemen waktu dan merasa "oh, ini teori yang sebenarnya sudah banyak saya paham, tapi belum bisa mengaplikasikannya. Bahkan ada beberapa perakatan yang sudah saya siapkan beberapa bulan bahkan tahun lalu".

Pekan pemilihan keluarga untuk belajar membuat saya berpikir lagi, mengapa bisa tidak bisa menerapkan? Apa kendalanya? Atau jangan-jangan ada hal lain yang harus dibereskan terlebih dahulu?

Sampailah saya pada kesimpulan, bahwa yang seharusnya diprioritaskan adalah emosi. Selama ini emosi cepat sekali berubah, bahkan dalam hitungan detik. Yang awalnya senang, tiba-tiba menjadi kecewa atau marah karena hal kecil bahkan hanya dengan membaca dan mengingat sesuatu yang menyedihkan seketika mood langsung berubah.

Akhirnya saya putuskan untuk bergabung ke keluarha menejemen emosi. Ternyata keluarga ini sangat banyak peminatnya sehingga dibagi dalam beberapa kelompok. Kembali "kegalauan" saya muncul. Saya harus gabung kemana? Berpikir saya seharian. Dan tiba-tiba sadar bahwa ada yang sesak di dalam dada, sesuatu yang ingin dikeluarkan tapi tidak bisa. Sesuatu yang sering membuat emosi berubah secepat jetcoaster. Ada yang perlu saya sembuhkan. Tidak bisa saya selalu merasa bersalah, bingung, takut, dan cemas.

Bismillah. Saya bergabung di kelompok Self Healing. Satu keluarga yang berupaya keluar dari keresahan yang dirasakan dalam diri. Berupaya menjadi ibu, istri, dan perempuan bahagia yang mencetak generasi bahagia. Kami ada pada satu visi untuk "waras" hati dan pikiran untuk masa depan. Sekarang di sini lah saya. Alhamdulillah, nyaman....

Grup Self Healing membahas tentang apa saja penyebab ketidakbahagiaan dalam diri dan bagaimana solusinya. Ada beberapa tipe seperti anxiety, innerchild, trauma, dan banyak istilah lain. Beberapa dari kami sepakat bahwa istilah-istilah ini cukup sulit untuk dipelajari semua. Yang terpenting adalah cari akar masalah dan coba kita lepaskan.

Beberapa tips yang bisa dilakukan adalah sadar nafas, rileks, berpikiran positif, forgiveness therapy, jurnal syukur, dan beberapa cara lain. Cara yang paling mudah adalah sadar nafas. Ketika emosi berubah dengan cepat, bisa karena banyaknya pekerjaan, kejadian, trauma, ingatan, dan lain-lain yang tidak menyenangkan, maka coba ambil jeda dengan tarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Sadari proses mengambil nafas dan mengeluarkan nafas. Rasakan.... Otot akan rileks. Tubuh akan rileks. Teknik paling cepat dan paling mudah dilakukan dimana saja dan kapan saja. Dan ternyata benar, ini sangat bermanfaat saya terapkan.

Saat ini saya masih terus belajar dalam grup self healing. Banyak hal yang bisa dipelajari. Tetap berusaha melakukan yang terbaik dengan terus berupaya melakukan self healing. Saya berharap kecemasan, ketakutan, dan perasaan bersalah bisa berkurang sehingga bisa menjadi ibu bahagia.

Menjadi ibu bahagia dengan tetap menjaga kewarasan merupakan materi yang disampaikan mbak Farda sebagai mahasiswi terpilih untuk go live. Dan saya benar-benar berharap suatu saat bisa menjadi ibu bahagia yang benar-benar bahagia dari dalam hati dan pikiran :)



Surakarta, Februari 2020

Terbaru

You are enough...

Ya, you are enough... Setiap orang punya hal yg diperjuangkan. Kita tidak bisa langsung menilai tentang pencapaian setiap orang hanya m...

Populer