Apr 24, 2019

Puasa di Negeri Sakura




Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang selalu dinanti bagi muslim. Bagaimana tidak, bulan ini penuh berkah semua kebaikan akan berkali lipat pahalanya. Dan, yang paling disukai, bagi saya khususnya, adalah pelaksanaannya dilakukan bersama-sama jadi rasanya penuh semangat untuk melakukan kebaikan.

Puasa di tanah air dengan di negeri sakura tentu beda. Ada suka dan duka. Tapi Alhamdulillah masih banyak sukanya. Apa saja perbedaannya keseruan puasa ramadhan di negeri sakura? Berikut cerita kami.


Puasa bersama sesama muslim




Di tanah air, muslim merupakan kaum mayoritas. Tentu berbeda dengan di Jepang. Muslim di sini menjadi minoritas. Tapi itu tidak menyusutkan semangat. Justru kami semakin semakin semangat. Kami bersama muslim lainnya dari berbagai negara seperti Pakistan, Bangladesh, Turki, Arab, Malaysia, dan beberapa negara lain melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Kami merasa puasa menjadi tantangan, di saat kami melihat banyak orang makan dengan biasa kami berusaha teguh untuk tetap menjalankan perintahNya. Alhamdulillah Allah memberi banyak kemudahan.

Puasa di Jepang berada di akhir musim semi. Tentu ada perbedaan waktu siang dan malam dengan di tanah air. Tahun lalu kami puasa sekitar 15-17 jam dimana waktu siang lebih lama dibanding malam. Jadi harus banyak-banyak bersabar. Jika keluarga kita di tanah air belum bangun untuk sahur, kami sudah selesai sahur dan bisa jadi kita buka puasanya bersamaan. Alhamdulillah bisa dinikmati.


Menyambut Bulan Puasa




Di kota kami ada satu masjid, alhamdulillah. Walaupun jarak tempuh lumayan, tapi kami beruntung di banding teman kami yang tinggal di luar kota. Jadi kalau dimisalkan,dalam satu karisidenan hanya ada satu masjid. Nah, kami tinggal di kota yang ada masjidnya. Masjid Umar bin Al-Khottob. Mesjid istimewa di kota Kanazawa.

Di masjid inilah kami menyelenggarakan berbagai acara salah satunya Tarhib Ramadhan. Kegiatan intinya adalah tausiah dan maaf maafan. Baru minggu kemarin kami melaksanakannya. Rasanya senang sekali. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi merasa menjadi saudara karena kami sesama muslim. Sungguh, Allah Maha Pengasih menjadikan kami saudara baik di sini.


Makanan sahur dan berbuka


Bumbu dasar yang disiapkan selama bulan ramadhan


Rutinitas memasak pun akan berubah. Menjadi ibu dan istri yang masih belajar memasak menjadi tantangan tersendiri. Menu sahur dan buka puasa diusakan menu sehat agar bisa kuat seharian. Akhirnya menggunakan beberapa strategi.

  1. Membuat stok bumbu siap pakai yang diracik sendiri. Ini akan sangat membantu agar bisa memasak lebih cepat. Bumbu yang dibuat antara lain bumbu putih, merah, kuning, dan sambel.
  2. Memasak satu kali untuk buka dan sahur. Kami pernah buka puasa jam 19.30.dan sahur jam 02.00. Dan paling cepat baru bisa tidur jam 22.00. Jadi makanan harus sudah tersedia, minimal sudah disiapkan tinggal menumis. Untuk anak-anak sy memasak sedikit untuk makan siang.
  3. Membuat daftar masakan. Ini sangat penting, terkait dengan bahan apa saja yang dibutuhkan dan ibu-ibu seringnya bingung mau masak apa. Jadi ini sangat membantu karena menu buka puasa tidak hanya menu utama, tapi juga ada cemilan dan makanan manis untuk pembuka.


Buka puasa bersama


Beberapa menu buka puasa di Masjid

Jika mendengar istilah ini kebanyakan dari kita akan membayangkan buber bareng di rumah makan atau tempat teman dengan menu yang bervariasi. Hmmm.... enak ya. Tapi di tempat kami lebih spesial. Kami bergotong royong untuk menyiapkan makanan berbuka. Bisanya sebelum ramadhan, kami akan mengisi list siapa yang dengan sukarela mau membuat bento dan cemilan pembukanya. Sekitar 100 pack untuk masing-masing, jadi satu orang bisa menyanggupi 10 pack bento. Semua makanan akan dikemas dalam wadah siap makan. Ada pula yang sukarela membelikan peralatan makan, minuman, dan plastik sampahnya.



Makan bersama di Masjid

Hari biasa (senin - jumat buka puasa bersama di kampus), dan untuk Sabtu dan Ahad bisa buka puasa di mesjid bersama keluarga. Spesial sekali buka puasa kami, selain karena menunya yang berbeda-beda (karena dimasak oleh banyak orang yang berbeda tiap harinya), kami buka puasa di mesjid, bersih-bersih, solat maghrib bersama, dilanjutkan solat isya dan tarawih dengan saudara seiman dari berbagai penjuru. Banyak cerita seru di sana.


Solat Tarawih




Puasa ramadhan tentu tidak lengkap tanpa solat tarawih. Solat tarawih dipimpin oleh imam yang berganti-ganti dari beberapa negara. Bacaannya 1 juz setiap harinya. Minggu terakhir biasanya, mesjid kedatangan hafidz untuk mengisi berbagai kegiatan di mesjid. Hafidz ini bisa dari negara manapun yang dikirim dari lembaga tertentu untuk membantu di mesjid-mesjid luar negeri.

Solat tarawih lebih banyak dilakukan di rumah untuk saya pribadi karena jarak tempuh yang lumayan dan membawa serta anak-anak di malam hari. Solat tarawih ini bisa dimulai jam 20.30 dan selesai jam 21.30 atau bahkan lebih tergantung waktu isya. Jadi suami yang ke masjid, sesekali saya dan anak-anak ikut.

Banyak sekali keseruan puasa di negeri sakura. Alhamdulillah bisa dinikmati hal-hal yang menyenangkan dan bisa terlewati dengan baik hal yang sulit. Pada akhirnya kami merayakan idul fitri bersama :)

Alhamdulillah Idul Fitri Pertama di  Masjid Kanazawa


Mengutip salah satu perkataan teman saya,

"tinggal di negeri minoritas muslim itu ada yang spesial. Kita akan menganggap semua muslim di sini seperti saudara, jika ada kesusahan kita akan membantu demgan semangat. Darimanapun mereka berasal"

Terkadang ketika kami berjalan dan bertemu orang berhijab maupun berpeci secara spontan akan senyum dan mengucapkan salam. Sungguh kebiasaan baru yang baik yang belum banyak kita terapkan di negeri sendiri.



Kanazawa, 24 April 2019

Terbaru

Puasa di Negeri Sakura

Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang selalu dinanti bagi muslim. Bagaimana tidak, bulan ini penuh berkah semua kebaikan ak...

Populer