Dec 20, 2018

Memahami Gaya Belajar Anak

Di penghujung level, aliran rasa merupakan bentuk evaluasi saya pada apa yang sudah kami kerjakan selama game level 4. Memahami gaya belajar anak merupakan hal yang penting agar kita mampu membentuk lingkungan belajar yang sesuai dengan anak. Saya mengevaluasi apa yang telah dilakukan, bagaimana tanggapan anak-anak, ciri gaya belajar apa yang muncul, bagaimana perasaan anak-anak ketika belajar, apa saja yang dapat dipelajari anak, dan bagaimana lingkungan belajar yang diinginkan anak untuk pembelajaran selanjutnya. Berikut review kegiatan kami selama level 4.


Resume Kegiatan T10

Proyek untuk belajar kali ini adalah mengenalkan hewan sekitar dengan berbagai media. Tidak hanya menjadi fasilitator, kali ini nda juga berperan sebagai observer untuk mengamati gaya belajar mas dan adek. Cara untuk mengetahui tipe gaya belajar anak adalah dengan melakukan pengamatan atau observasi dari berbagai macam aktivitas anak. Kita identifikasi ciri-ciri dominan apa yang teramati dari anak dan direkap pada tabel.  Di akhir pembelajaran kita akan tahu, gaya belajar tipe apa ya Mas dan Adek.

Kegiatan belajar ini dirancang dengan menggunakan berbagai media. Mas dan adek akan berinteraksi dengan media, dan nda akan mengamati bagaimana ciri belajar yang muncul.

No
Aktivitas
Media
1
Kenalan dengan kucing yuk!
Kucing asli
2
Menebak nama hewan
Buku kartu hewan
3
Ayo kenalan dengan Laron!
Laron asli
4
Ayo pancing ikan!
Kolam pancing, replica ikan, pancing
5
Ikan, yuk makan
Ikan asli, pakan ikan
6
Tandai yang manakah aku?
Worksheet Gambar berbagai hewan, pensil
7
Tebak suara
Rekaman suara hewan
8
Meniru gerakan hewan
Bergerak seperti hewan
9
Berburu serangga
Worksheet, pensil
10
Membaca adalah pintu kemana saja
Buku cerita

Penggunaan berbagai media ini berperan untuk menstimulasi belajar anak secara visual, auditori, dan kinestetik. Beberapa aktivitas dirancang hanya menggunakan media yang menstimulasi satu gaya belajar saja untuk mengetahui interaksi dan modifikasi anak terhadap media. Ternyata walaupun kita menggunakan satu media, anak usia balita masih belum bisa kita “minta” untuk menggunakan itu saja tanpa ada tambahan yang lain. Misalnya, saya hanya menggunakan buku cerita dengan harapan melihat bagaimana jika anak dihadapkan pada media visual. Anak balita tetap minta didampingi untuk diceritakan isi bukunya, ditirukan suara hewan didalamnya, dan anak mempraktekkan gambar di buku. Anak justru lebih kreatif menggunakan media untuk melakukan lebih banyak kegiatan sehingga mereka bergerak aktif dengan melibatkan semua indera.

Pengamatan gaya belajar 10 hari pada Mas Ozi memperlihatkan bahwa gaya belajar mas Ozi lebih dominan ke kinestetik. Namun, ketika Nda mencoba mengkondisikan belajar dengan gaya auditori, maka Mas Ozi juga mengarah ke auditori. Begitu juga jika menggunakan tiga gaya belajar, maka hasilnya akan menunjukkan ketiga gaya belajar. Untuk gaya visual, paling tidak nampak. Hal tersebut mengindikasikan agar lingkungan belajar yang disajikan nanti menggunakan berbagai media yang bias memfasilitasi berbagai gaya belajar dengan mengutamakan gaya belajar kinestetik.

Pengamatan gaya belajar pada Adek memperlihatkan bahwa gaya belajar Adek lebih dominan ke auditori. Apapun kondisi belajar yang disajikan, Adek menunjukkan gaya belajar auditori dan kinestetik. Ciri gaya visual hanya nampak satu kali. Hal ini memperlihatkan bahwa adek lebih senang belajar dengan bergerak dan mendengarkan. Hal tersebut dimungkinkan karena Adek belum bisa fokus belajar dengan duduk.

Belajar dan Gaya Belajar

Piaget merupakan tokoh pendidikan dengan dua teori yang terkenal yaitu teori perkembangan kognitif dan konstruktivisme (suparno, 2000). Menurut Piaget seseorang akan mengalami perkembangan kognitif dalam 4 tahap yaitu 1) tahap sensori motor yaitu Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana dengan rentang usia dari lahir sampai usia 2 tahun, 2) tahap praoperasional yaitu penggunaan symbol atau bahasa tanda dengan rentang usia 2 - 4 tahun dan dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstraks pada rentang usia 4-7 tahun, 3) tahap operasional konkret yaitu Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret dengan rentang usia 7 sampai 11 tahun, dan 4) tahap operasi formal yaitu anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan  menggunakan pola berpikir "kemungkinan" dengan usia di atas 11 tahun.

Teori konstruktivisme secara garis besar menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk oleh pebelajar itu sendiri melalui aktivitas dalam belajar. Anak tidak hanya menerima pengetahuan begitu saja, tapi melalui berbagai proses. Anak harus melihat, memegang, mempelajari sesuatu sampai diorganisasikan dalam pikirannya. Anak harus secara aktif belajar, bukan diajar.

Berdasarkan kedua tersebut, kita bisa menyusun kegiatan belajar yang sesuai usia anak dengan memperhatikan metode, media, termasuk bagaimana kita bersikap sebagai fasilitator dalam proses belajar anak. Anak balita masuk pada tahap praoperasional dimana anak harus belajar melalui benda konkret. Misalnya ketika kita hendak mengenalkan kucing, minimal kita menggunakan gambar, jangan hanya meminta anak membayangkan bentuk kucing, warna rambutnya, banyaknya kumis, telinga, dan lain-lain. Akan lebih baik jika kita mengajak anak melihat kucing, biarkan anak mengejar, mengelus, bahkan menggendongnya. Dengan demikian anak paham bagaimana wujud kucing, bagaimana lembut bulunya, berapa jumlah kakinya, apa warna rambunya, bentuk telinga, bahkan bagaimana memperlakukannya agar kucing nyaman. Hal-hal ini pengetahuan yang dipelajari melalui proses, bukan hanya diceritakan oleh orang dewasa dan memita anak untuk menerimanya secara mentah. Proses inilah yang akan lebih kuat mengakar pada pikiran anak.

Belajar adalah sebuah proses. Bagaimana anak memandang sesuatu dan cara menginternalisasikan dalam pikiran adalah gaya belajar. Setiap anak mempunyai gaya belajar berbeda-beda walaupun tumbuh di lingkungan yang sama karena setiap anak itu unik. Mengingat setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan
 Gaya belajar masing-masing orang berbeda satu dengan yang lain, banyak ahli mencoba menggunakan klasifikasi atau pengelompokan “Gaya Belajar” untuk memudahkan kita dalam menyusun rencana belajar anak. Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar untuk mempermudah menemukan cara belajar yang menyenangkan dan efktif. Belajar sendiri dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang akan berdampak pada konsentrasi belajar. Hal tersebut akan menghasilkan pengetahuan. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajar. Sehingga, ketika kita mengenali gaya belajar, maka kita dapat mengelola pembelajaran pada kondisi apa, dimana, kapan dan bagaimana cara pembelajaran yang baik dan efektif (Susilowati, 2013).


Kegiatan untuk menstimulasi belajar efektif

Belajar bukan hanya tentang hasilnya yaitu pengetahuan, tetapi proses belajar itu yang lebih penting. Mengajarkan anak bagaimana cara belajar jauh lebih berharga dibanding hanya memberikan informasi (Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 4, 2018). Proses belajar akan mengajarkan anak untuk mencintai belajar, untuk terus belajar sepanjang hayatnya. Belajar yang aktif adalah dengan aktif mencari, menginterpretasi, menganalisis, dan menerapkan informasi. Hal yang paling penting adalah membentuk karakter sebagai pebelajar.

Mas dan Adek tertarik dengan berbagai aktivitas yang disuguhkan Nda. Sebagai pengamat, Nda melihat bahwa kedua anak paling senang ketika Nda menyuguhkan aktivitas yang melibatkan berbagai macam indera. Yang paling membuat mereka semangat adalah kegiatan “berburu serangga”. Kegiatan ini melibatkan visual, auditori, dan kinestetik. Nda memberikan worksheet berisi gambar serangga untuk dicentang jika mereka menemuinya. Mas dan adek membentuk sebuah tim. Mas Ozi menjadi leader, memimpin dengan suara tegas dan memandu adeknya kalau ketinggalan atau menemukan sesuatu. Mencentang dan mengamati hewan yang ditemui. Berlari, berjalan, dan masuk ke semak untuk mencari hewan.

Aktivitas yang paling disukai selama T10 level 4

T10 pada game level 4 kemarin memberikan kesimpulan akhir bahwa Mas memiliki gaya belajar dominan kinestetik dan adek dominan auditori. Namun keduanya tidak mutlak karena hamper setiap aktivitas, ciri gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik muncul. Menurut Susilowati (2013), gaya belajar pada anak usia dini adalah gaya belajar campuran. Sebenarnya hampir semua anak didik (TK) memiliki gaya belajar campuran, sangat sedikit anak yang memiliki hanya satu gaya belajar. Gaya belajar campuran adalah gaya belajar dimana anak kadang bertipe auditorial sekaligus visual dan atau juga kinestetik, atau hanya kinestetik dan visual. Ketika anak melakukan kegiatan main, semua alat indra dan kinestetiknya akan dimanfaatkan secara maksimal. Itulah sebabnya bermain merupakan kegiatan yang paling tepat diberikan pada anak usia dini, karena di samping menyenangkan buat anak, juga akan memaksimalkan pengindraan dan kinestetik anak, sehingga mampu memberikan informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak. Ketika Mas dan Adek bermain dengan kucing atau Laron, maka indera akan banyak berperan. Mas dan adek akan menggunakan penglihatannya untuk mengamati bentuk kuncing, warna rambutnya, bentuk telinga, dan lain-lain. Anak akan mendengarkan suara meong kucing, dan tahu ketika kita memanggil “pusss”, kucing akan mengeluarkan bunyi “meong”. Mas dan adek juga bergerak mengejar kucing dan menggondongnya. Berbagai kegiatan ini yang dapat memberikan pengetahuan baru pada mas dan adek tentang kucing. Dengan demikian jika cara ini lebih anak senang dan proses konstruksi pengetahuan lebih efektif maka kita bisa menggunakannya sebagai referensi cara belajar dan memodifikasi untk pembelajaran selanjutnya.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua harus menjadi tangguh dan disiplin merancang kegiatan belajar anak sesuai usia dan gaya belajarnya. Bagaimana kita membangun lingkungan belajar yang menyenangkan dan memilih media yang tepat. Dengan harapan kita dapat membentuk anak dengan karakter pebelajar sejati.



Kudus, 20 Desember 2018


Referensi:
Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 4. 2018. Menstimulasi Gaya Belajar Anak. Camilan 4.1 Kuliah Bunda Sayang.
Susilowati, Retno. 2013. Pemahaman Gaya Belajar pada Anak Usia Dini. Diakses pada http://piaud-tarbiyah.stainkudus.ac.id/files/Retno%20Susilowati.pdf tanggal 20 Desember 2018.
Suparno, Paul. 2000. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta : Kanisius.


No comments:

Post a Comment

Terbaru

Serba 5 dalam Mendongeng

Sungguh, saya termasuk ibu yang tidak pandai mendongeng. Ketika challange mendongeng ini diberikan, saya masih mencari-cari bagaimana sa...

Populer