Dec 28, 2018

Berharap Menjadi Lebih Baik di 2019



Yesterday is history

Tomorrow is a mystery

Today is a gift

Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi kemarin dan kita juga tidak bisa tahu apa yang terjadi esok. Tapi, kita bisa berupaya untuk merencanakan hari esok agar lebih baik.

Setiap orang selalu mendambakan lebih baik dari hari kemarin, lebih baik dari tahun kemarin. Tinggal menghitung hari, inshaAllah kita akan berjumpa dengan tahun 2019. Apa resolusi kita? Sudah adakah rencana agar tahun esok kita lebih baik?
Jika berbicara tentang apa yang saya inginkan di tahun 2019 pasti akan  panjang. Namun ada 5 hal utama yang ingin saya capai. Apa saja 5 hal tersebut?

1. Mengurangi penggunaan kantong plastik
Sumber: www.dietkantongplastik.org

Mungkin sebagian akan merasa aneh ketika resolusi pertama saya adalah mengurangi kantong plastik di tahun 2019. “Mulai dari hal yang sederhana” itu adalah filosofi suami saya. Beliau tidak pernah bermuluk-muluk dalam menetapkan target, yang penting ada hasil yang bermanfaat. Belajar dari hal tersebut saya berupaya menerapkan mengurangi menggunakan sampah plastik untuk menjaga bumi.
Selama di Jepang, kami giat menggunakan kantong sendiri ketika belanja. Disamping alasan biar ngirit (karena kantong plastik di sana berbayar-- emak-emak banget ya), di Jepang membawa kantong sendiri itu rasanya keren. Masyarakat di sana sudah terbiasa melakukannya, baik anak, remaja, dewasa, tua, laki-laki, perempuan, semua menggunakan kantong sendiri. Mereka merasa menjadi bagian dalam menjaga lingkungan. Bahkan bentuk kantong dan tas belanja itu sudah sangat bervariasi dengan tampilan menarik dan mudah dibawa atau di dorong.
Ketika kembali ke kampung halaman, sy cukup kaget ketika mendapatkan plastik hanya untuk 1 snack yang saya beli. Padahal tidak perlu diplastik juga bisa. Tapi si embah penjual ini ngotot memberi saya plastik katanya biar jatuh. Ya Sudah saya terima saja. Berkaca dari hal ini, maka saya bertekad untk melakukan beberapa hal sederhana seperti:
a.   Membawa kantong belanja lipat kemana-mana
b.   Membawa keranjang belanja ke pasar
c.   Membawa piring atau wadah makanan untuk beli makan

d.   Membawa atau memasukkan ke tas barang belanjaan kecil yang kita beli
Hal yang sederhana, tapi bisa mengurangi pemakaian plastik. Mudah bukan? Yuk kita laksanakan!

2. Giat literasi
pondokmumpuni.com

Lagi-lagi saya terinpirasi dari kerennya anak-anak Jepang dalam membaca dan menulis. Malu saya melihat mereka yang setiap hari membaca dan menulis dengan suka cita. Jadi saya putuskan, tahun 2019 Giat Literasi!
Program giat literasi yang dibuat adalah:
a.   Menulis 2 tulisan dalam sebulan di blog
b.   Menulis 1 artikel di seminar atau jurnal dalam setahun

c.   Membaca minimal 1 buku dalam 3 bulan
Tidak muluk-muluk kan ya, semoga bisa tercapai, aamin….

3. Disiplin dalam beraktivitas

Teori kandang waktu sudah lama didapat. Jadwal harian sudah disusun. Tapi, dalam pelaksanaannya masih kacau. Saya melonggarkan pelaksanaannya. “tidak apalah nanti masih ada waktu”, “tidak apa, namanya juga anak-anak bisa molor waktu”, atau “sebentar lagi masih ngantuk”. Nah, ini masalah.
Meningkatkan kedisiplinan dalam beraktivitas itu wajib hukumnya. Terlihat sepele, tapi sungguh sangat bermanfaat terutama untuk anak-anak kelak. Anak butuh keteraturan. Bundanya tidak boleh mengacau lagi. Bersiaplah, yuk memulai aktivitas tepat waktu agar lebih bersemangat!

4. Mewujudkan home education

Mimpi home education tahun ini belum terwujud dengan baik. Anak-anak belajar dengan jadwal seadanya. Jadi, tahun ini kami putuskan untk mengadakan musyawarah “sesungguhnya” agar mimpi ini terwujud. Kita agendakan segera ya ayah, agar bisa segera terwujud!

5. Meningkatkan muhasabah diri
Sumber : www.tongkronganislami.net

Dalam terminilogi syari, makna dari muhasabah ialah sebuah upaya untuk melakukan evaluasi diri terhadap setiap kebaikan dan keburukan beserta semua aspeknya (http://fimadani.com/arti-muhasabah/).
“Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi).
Sungguh ingin sekali lebih baik dari kemarin, sehingga terus bersyukur dan bersyukur. Muhasabah diri dimaknai sebagai bentuk intropeksi diri, evaluasi segala apa-apa yang ada di dalam diri kita. Yang pada akhirnya, saya berharap bisa lebih bersyukur dan berpikir positif atas semua yang didapat.

Pada akhirnya, saya berharap tulisan ini bisa bermanfaat sebagai doa, harapan, dan  pengingat untuk tahun 2019. Semoga bisa terwujud, Aamiin…. Begitu juga dengan harapan teman-teman di tahun depan juga terwujud, Aamiin...

Kudus, 28 Desember 2018
Salam,
Elok Mumpuni

Dec 20, 2018

Memahami Gaya Belajar Anak

Di penghujung level, aliran rasa merupakan bentuk evaluasi saya pada apa yang sudah kami kerjakan selama game level 4. Memahami gaya belajar anak merupakan hal yang penting agar kita mampu membentuk lingkungan belajar yang sesuai dengan anak. Saya mengevaluasi apa yang telah dilakukan, bagaimana tanggapan anak-anak, ciri gaya belajar apa yang muncul, bagaimana perasaan anak-anak ketika belajar, apa saja yang dapat dipelajari anak, dan bagaimana lingkungan belajar yang diinginkan anak untuk pembelajaran selanjutnya. Berikut review kegiatan kami selama level 4.


Resume Kegiatan T10

Proyek untuk belajar kali ini adalah mengenalkan hewan sekitar dengan berbagai media. Tidak hanya menjadi fasilitator, kali ini nda juga berperan sebagai observer untuk mengamati gaya belajar mas dan adek. Cara untuk mengetahui tipe gaya belajar anak adalah dengan melakukan pengamatan atau observasi dari berbagai macam aktivitas anak. Kita identifikasi ciri-ciri dominan apa yang teramati dari anak dan direkap pada tabel.  Di akhir pembelajaran kita akan tahu, gaya belajar tipe apa ya Mas dan Adek.

Kegiatan belajar ini dirancang dengan menggunakan berbagai media. Mas dan adek akan berinteraksi dengan media, dan nda akan mengamati bagaimana ciri belajar yang muncul.

No
Aktivitas
Media
1
Kenalan dengan kucing yuk!
Kucing asli
2
Menebak nama hewan
Buku kartu hewan
3
Ayo kenalan dengan Laron!
Laron asli
4
Ayo pancing ikan!
Kolam pancing, replica ikan, pancing
5
Ikan, yuk makan
Ikan asli, pakan ikan
6
Tandai yang manakah aku?
Worksheet Gambar berbagai hewan, pensil
7
Tebak suara
Rekaman suara hewan
8
Meniru gerakan hewan
Bergerak seperti hewan
9
Berburu serangga
Worksheet, pensil
10
Membaca adalah pintu kemana saja
Buku cerita

Penggunaan berbagai media ini berperan untuk menstimulasi belajar anak secara visual, auditori, dan kinestetik. Beberapa aktivitas dirancang hanya menggunakan media yang menstimulasi satu gaya belajar saja untuk mengetahui interaksi dan modifikasi anak terhadap media. Ternyata walaupun kita menggunakan satu media, anak usia balita masih belum bisa kita “minta” untuk menggunakan itu saja tanpa ada tambahan yang lain. Misalnya, saya hanya menggunakan buku cerita dengan harapan melihat bagaimana jika anak dihadapkan pada media visual. Anak balita tetap minta didampingi untuk diceritakan isi bukunya, ditirukan suara hewan didalamnya, dan anak mempraktekkan gambar di buku. Anak justru lebih kreatif menggunakan media untuk melakukan lebih banyak kegiatan sehingga mereka bergerak aktif dengan melibatkan semua indera.

Pengamatan gaya belajar 10 hari pada Mas Ozi memperlihatkan bahwa gaya belajar mas Ozi lebih dominan ke kinestetik. Namun, ketika Nda mencoba mengkondisikan belajar dengan gaya auditori, maka Mas Ozi juga mengarah ke auditori. Begitu juga jika menggunakan tiga gaya belajar, maka hasilnya akan menunjukkan ketiga gaya belajar. Untuk gaya visual, paling tidak nampak. Hal tersebut mengindikasikan agar lingkungan belajar yang disajikan nanti menggunakan berbagai media yang bias memfasilitasi berbagai gaya belajar dengan mengutamakan gaya belajar kinestetik.

Pengamatan gaya belajar pada Adek memperlihatkan bahwa gaya belajar Adek lebih dominan ke auditori. Apapun kondisi belajar yang disajikan, Adek menunjukkan gaya belajar auditori dan kinestetik. Ciri gaya visual hanya nampak satu kali. Hal ini memperlihatkan bahwa adek lebih senang belajar dengan bergerak dan mendengarkan. Hal tersebut dimungkinkan karena Adek belum bisa fokus belajar dengan duduk.

Belajar dan Gaya Belajar

Piaget merupakan tokoh pendidikan dengan dua teori yang terkenal yaitu teori perkembangan kognitif dan konstruktivisme (suparno, 2000). Menurut Piaget seseorang akan mengalami perkembangan kognitif dalam 4 tahap yaitu 1) tahap sensori motor yaitu Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana dengan rentang usia dari lahir sampai usia 2 tahun, 2) tahap praoperasional yaitu penggunaan symbol atau bahasa tanda dengan rentang usia 2 - 4 tahun dan dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstraks pada rentang usia 4-7 tahun, 3) tahap operasional konkret yaitu Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret dengan rentang usia 7 sampai 11 tahun, dan 4) tahap operasi formal yaitu anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan  menggunakan pola berpikir "kemungkinan" dengan usia di atas 11 tahun.

Teori konstruktivisme secara garis besar menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk oleh pebelajar itu sendiri melalui aktivitas dalam belajar. Anak tidak hanya menerima pengetahuan begitu saja, tapi melalui berbagai proses. Anak harus melihat, memegang, mempelajari sesuatu sampai diorganisasikan dalam pikirannya. Anak harus secara aktif belajar, bukan diajar.

Berdasarkan kedua tersebut, kita bisa menyusun kegiatan belajar yang sesuai usia anak dengan memperhatikan metode, media, termasuk bagaimana kita bersikap sebagai fasilitator dalam proses belajar anak. Anak balita masuk pada tahap praoperasional dimana anak harus belajar melalui benda konkret. Misalnya ketika kita hendak mengenalkan kucing, minimal kita menggunakan gambar, jangan hanya meminta anak membayangkan bentuk kucing, warna rambutnya, banyaknya kumis, telinga, dan lain-lain. Akan lebih baik jika kita mengajak anak melihat kucing, biarkan anak mengejar, mengelus, bahkan menggendongnya. Dengan demikian anak paham bagaimana wujud kucing, bagaimana lembut bulunya, berapa jumlah kakinya, apa warna rambunya, bentuk telinga, bahkan bagaimana memperlakukannya agar kucing nyaman. Hal-hal ini pengetahuan yang dipelajari melalui proses, bukan hanya diceritakan oleh orang dewasa dan memita anak untuk menerimanya secara mentah. Proses inilah yang akan lebih kuat mengakar pada pikiran anak.

Belajar adalah sebuah proses. Bagaimana anak memandang sesuatu dan cara menginternalisasikan dalam pikiran adalah gaya belajar. Setiap anak mempunyai gaya belajar berbeda-beda walaupun tumbuh di lingkungan yang sama karena setiap anak itu unik. Mengingat setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan
 Gaya belajar masing-masing orang berbeda satu dengan yang lain, banyak ahli mencoba menggunakan klasifikasi atau pengelompokan “Gaya Belajar” untuk memudahkan kita dalam menyusun rencana belajar anak. Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar untuk mempermudah menemukan cara belajar yang menyenangkan dan efktif. Belajar sendiri dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang akan berdampak pada konsentrasi belajar. Hal tersebut akan menghasilkan pengetahuan. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajar. Sehingga, ketika kita mengenali gaya belajar, maka kita dapat mengelola pembelajaran pada kondisi apa, dimana, kapan dan bagaimana cara pembelajaran yang baik dan efektif (Susilowati, 2013).


Kegiatan untuk menstimulasi belajar efektif

Belajar bukan hanya tentang hasilnya yaitu pengetahuan, tetapi proses belajar itu yang lebih penting. Mengajarkan anak bagaimana cara belajar jauh lebih berharga dibanding hanya memberikan informasi (Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 4, 2018). Proses belajar akan mengajarkan anak untuk mencintai belajar, untuk terus belajar sepanjang hayatnya. Belajar yang aktif adalah dengan aktif mencari, menginterpretasi, menganalisis, dan menerapkan informasi. Hal yang paling penting adalah membentuk karakter sebagai pebelajar.

Mas dan Adek tertarik dengan berbagai aktivitas yang disuguhkan Nda. Sebagai pengamat, Nda melihat bahwa kedua anak paling senang ketika Nda menyuguhkan aktivitas yang melibatkan berbagai macam indera. Yang paling membuat mereka semangat adalah kegiatan “berburu serangga”. Kegiatan ini melibatkan visual, auditori, dan kinestetik. Nda memberikan worksheet berisi gambar serangga untuk dicentang jika mereka menemuinya. Mas dan adek membentuk sebuah tim. Mas Ozi menjadi leader, memimpin dengan suara tegas dan memandu adeknya kalau ketinggalan atau menemukan sesuatu. Mencentang dan mengamati hewan yang ditemui. Berlari, berjalan, dan masuk ke semak untuk mencari hewan.

Aktivitas yang paling disukai selama T10 level 4

T10 pada game level 4 kemarin memberikan kesimpulan akhir bahwa Mas memiliki gaya belajar dominan kinestetik dan adek dominan auditori. Namun keduanya tidak mutlak karena hamper setiap aktivitas, ciri gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik muncul. Menurut Susilowati (2013), gaya belajar pada anak usia dini adalah gaya belajar campuran. Sebenarnya hampir semua anak didik (TK) memiliki gaya belajar campuran, sangat sedikit anak yang memiliki hanya satu gaya belajar. Gaya belajar campuran adalah gaya belajar dimana anak kadang bertipe auditorial sekaligus visual dan atau juga kinestetik, atau hanya kinestetik dan visual. Ketika anak melakukan kegiatan main, semua alat indra dan kinestetiknya akan dimanfaatkan secara maksimal. Itulah sebabnya bermain merupakan kegiatan yang paling tepat diberikan pada anak usia dini, karena di samping menyenangkan buat anak, juga akan memaksimalkan pengindraan dan kinestetik anak, sehingga mampu memberikan informasi pengetahuan sebanyak-banyaknya pada anak. Ketika Mas dan Adek bermain dengan kucing atau Laron, maka indera akan banyak berperan. Mas dan adek akan menggunakan penglihatannya untuk mengamati bentuk kuncing, warna rambutnya, bentuk telinga, dan lain-lain. Anak akan mendengarkan suara meong kucing, dan tahu ketika kita memanggil “pusss”, kucing akan mengeluarkan bunyi “meong”. Mas dan adek juga bergerak mengejar kucing dan menggondongnya. Berbagai kegiatan ini yang dapat memberikan pengetahuan baru pada mas dan adek tentang kucing. Dengan demikian jika cara ini lebih anak senang dan proses konstruksi pengetahuan lebih efektif maka kita bisa menggunakannya sebagai referensi cara belajar dan memodifikasi untk pembelajaran selanjutnya.

Pada akhirnya kita sebagai orang tua harus menjadi tangguh dan disiplin merancang kegiatan belajar anak sesuai usia dan gaya belajarnya. Bagaimana kita membangun lingkungan belajar yang menyenangkan dan memilih media yang tepat. Dengan harapan kita dapat membentuk anak dengan karakter pebelajar sejati.



Kudus, 20 Desember 2018


Referensi:
Tim Fasilitator Bunda Sayang Batch 4. 2018. Menstimulasi Gaya Belajar Anak. Camilan 4.1 Kuliah Bunda Sayang.
Susilowati, Retno. 2013. Pemahaman Gaya Belajar pada Anak Usia Dini. Diakses pada http://piaud-tarbiyah.stainkudus.ac.id/files/Retno%20Susilowati.pdf tanggal 20 Desember 2018.
Suparno, Paul. 2000. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Yogyakarta : Kanisius.


Dec 9, 2018

Membaca adalah pintu kemana saja!

Baca buku yok!
Yee... Ayooo....

Begitulah duo bocah Nda, selalu merasa bahagia dengan buku ❤
Dimanapun berada asal ada buku inshaAllah aman. Makanya kemarin ketika pulang, tas ransel Nda paling banyak berisi buku. Kalau mereka bosan, sodorkan saja buku 😊

Buku bagi kami seperti pintu ajaib doraemon, mau kemana aja bisa! Kami pinjam buku berbahasa jepang setiap ke jidoukan atau perpustakaan. Bisa baca? Nda lumayan bisa bacalah, tapi tidak tahu artinya 😁.  Alhamdulillah teknologi semakin canggih, bisa minta bantuan aplikasi untuk mengartikan, hehehe. Mau tahu tentang apa? Hiu, anjing laut, kuagata, kabuta, kuda, ular, belalang, semua adaaaaaa.... Tinggal pilih. Senang kan!

Alhamdulillah anak suka baca, walau yang dibaca gambarnya 😁. Nah, kali ini baca buku berkolaborasi dengan boneka tangan Kuma-kun. Jadi lebih asyik... Yeee...

Membaca adalah pintu kemana saja


👨 Mas

Mas Ozi suka dengan buku. Bahkan kalau diminta milih nanti beli mainan atau buku, si doi milih buku (asal pilihan mainannya bukan mobil balap ya, hehe). Si Mas ini suka buku tapi tidak terlalu senang membaca. Lebih memilih membaca bareng atau dibacakan. Jadi Nda akan menceritakan bagian awal tiap halaman, kemudian mas Ozi akan ikut menyambung cerita. Kalau lagi manja banget, doi minta dibacakan sampai tidur.

"Nda, kok semutnya lompat-lompat kenapa? Kan semut gak suka lompat. Kan belalang yang lompat", tanya Mas Ozi.
"Ah, ayo baca bagus-bagus. Kan pasukan Nabi Sulaiman lewat, terus tanah bergetar karena pasukan yang jalan banyak sekali", jawab Nda
"Ooo... Jadi semutnya seperti terbang. Jalannya kenceng ya", gumamnya
"Kenapa semutnya cari makan di tanah?"
"Kenapa dibawa bareng-bareng? Berat maemnya?"....

Banyak pertanyaan semacam itu dan seringnya dijawab sendiri. Mas Ozi juga gantian gerakakan boneka tangan beruang untuk sesekali bercerita. Nah, sering juga ni kalau Nda baru repot mas Ozi membacakan buku untuk Adek. Sambil Nda intip gimana bacain cerita. Lucu. Ky doi itu anak besar. MashaAllah. Adem sekali lihatnya ❤

Ciri gaya belajar:
🔍 sangat menyukai buku
🔍 lebih senang dibacakan (tapi ikut menyambung cerita) dibanding membaca sendiri
🔍 mepraktekkan apa yang diceritakan di buku, jika itu berhitung maka Mas akan ikut berhitung


👦 Adek

Adek selalu senang menirukan apapun yang kami katakan atau kerjakan. Mas nya berdiri menirukan hentakan kaki prajurit Nabi Sulaiman, maka Adek pun ikut. Mereka bersama mempraktikkan semut yang terlompat. Adek dan mas mencari batu kecil, taruk kasur, terus lompat. Yee... Batu ikut lompat seperti semut katanya 😁😂

Ketika membaca buku tentang monyet dan harimau adek mundur. Melihat aneh pada buku.

"Harimau... Atuut dididit (takut digigit)", kata Adek
"Gpp dek, ini kan buku. Nih, adek ditemani kuma-kun (boneka tangan beruang) ya", kata Nda
"Adek au kuma", kata Adek seraya mencoba memainkan boneka tangan.

Gak takut lagi. Hihi....

Ciri gaya belajar Adek:
🔍 menyukai buku dan lebih senang dibacakan
🔍 mempraktekkan apa yang diceritakan buku
🔍 menirukan suara dengan baik

Alhamdulillah.... Ketika anak suka membaca sy merasa senang. Karena membaca adalah jendela dunia. Sungguh. Ilmu apapun harus dengan.membaca. Iqro'... Bacalah.... Jadi keinginan kami anak-anak suka membaca, minimal suka buku. Kalau sekarang lebih suka dibacakan, mungkin karena belum bisa membaca dan kalau dibacakan seperti ada perhatian lebih dari kita, itu tidak masalah. Suatu saat ada masanya bisa membaca, bahkan menulis ❤😍


Sragen, 9 Desember 2018


#harike10
#tantangan10hari
#gamelevel4
#memahamigayabelajaranak
#kelasbundasayang

Dec 8, 2018

Berburu Serangga

Hari ini seru sekali!
Rencana membaca dan bermain boneka hari ini belum bisa dilaksanakan. Pagi ini kami kehabisan air. Tidak bisa melakukan apapun. Duo bocil mulai bosan, dan akhirnya kami belajar berburu serangga. Yeee....

Berburu serangga ini merupakan permainan yang baru dan menantang bagi duo bocil. Berburu serangga melibatkan kemampuan visual, audio, dan kinestetik. Pertualangan ini dipandu dengan sebuah worksheet (lembar kerja) yang berisi serangga apa saja yang harus dicari dan dipelajari Mas dan Adek. Serangga tersebut antara lain semut, lebah, belalang, ngengat, kepik, capung, ulat, laba-laba, dan kupu-kupu.

Mas Ozi sudah paham betul berbagai jenis serangga yang ada di worksheet. Bahkan sempat meralat Nda yang salah sebut. Berbekal worksheet, pensil, dan semangat, Mas dan Adek berangkat berburu serangga 🐜🐝🐞🕷🐌


👨 Mas

Semangat itulah yang terlihat pada Mas Ozi. Dengan sabar Mas Ozi juga membimbing Adek untuk memahami instuksi. Mas Ozi menceritakan serangga apa saja yang harus dicari.

Nda mengajari Mas untuk membuat tanda centang (√) ketika menemukan hewan pada daftar. Awalnya belajar menulis bersama. Kemudian Mas Ozi coba sendiri. Begitulah bentuknya. Tanda centang terbalik, ada yang tipis banget hampir gak terlihat, ada juga yang tidak mirip. Hehehe... First time ya Mas, gpp. Besok belajar buat centang lagi.

Worksheet yang telah diisi Mas dan Adek

"Nda, ini apa?", tanya Mas Ozi yang berhenti di depan pohon jambu
"Mana? Tak ada apa-apa", jawab Nda
"Itu lho yang hijau", tegas Mas Ozi
Nda mencoba melihat seksama, kemudian terperanjat kaget, "ulat!".
"Wah... Centang dulu yok Dek", katanya tanpa menghiraukan Nda yang masih kaget.
"Mana ulat. Mana?", tanya Adek.
"Tuuuu", jawab Mas
"Hii... Atut", kata Adek

Hahaha. Mana ada takut buat Mas Ozi.  Nda bahkan sering menjulukinya petualang cilik. Jadi setelah mencari dan mengamati serangga, Mas dan Adek bisa mencentang. Mencentangnya pun totalitas, duduk dimana aja 😁. Maaf ya, cari meja jalan gak ketemu. Hehehe

Ciri gaya belajar Mas:
📃 senang belajar dengan bergerak bebas
📃 lebih mudah belajar dengan melihat dan mengamati benda secara langsung
📃 menyukai belajar dengan cara baru dan tantangan baru


👦 Adek

Adek mengikuti semua gerakan dan instruksi Mas Ozi. Sambil sesekali berteriak girang karena menemukan serangga yang mereka cari, masuk ke semak mencari sarang laba-laba, atau duduk sembarangan menunggu mas Ozi mencentang worksheetnya.

Bahagialah si Adek ini. Kegiatan semacam inilah yang disukai. Kegiatan yang melibatkan seluruh indera, membebaskannya berjalan ke sana kemari, dan berteriak bebas. Nda sebagai fasilitator hari ini bertugas untuk memastikan semua aman dan senang ❤

Ciri gaya belajar Adek
📃 senang dengan aktivitas yang menyibukkan
📃 lebih senang belajar dengan melihat dan mengamati langsung
📃 mudah menirukan.cara bicara orang


Petualangan berburu serangga

Apa saja visual, audio, dan kinestetik?
Visual - menggunakan worksheet dan mengamati serangga
Audio - instruksi antara Mas dan Adek yang difasilitasi Nda
Kinestetik - berburu serangga dengan bergerak bebas

Nda takjub dengan pemahaman Mas Ozi dan Adek pada instruksi dan ingatan serangga apa saja yang dicari. Semangat belajar tinggi pada hal-hal yang baru. Alhamdulillah....


Sragen, 8 Desember 2018

#harike9
#tantangan10hari
#gamelevel4
#memahamigayabelajaranak
#kuliahbundasayang

Dec 7, 2018

Meniru Gerakan Hewan

Hari ke 8...

Hari ini ingin mencoba mengecek media tunggal. Jika kemarin sudah belajar dengan media visual dan audio, hari ini mencoba dengan gerakan (kinestetik). Nda ajak Mas dan Adek menirukan gerakan hewan-hewan seperti ular, ayam, bebek, burung, dan kura-kura.

Mas dan Adek belajar meniru gerakan hewan


👨 Mas

Mas Ozi tertarik ketika Nda ajak menirukan gerakan ular dengan tangan. Beberapa hari yang lalu ada ular sawah masuk ke rumah. Kami sempat takut, mengira itu ular yang berbahaya. Alhamdulillah tidak bahaya. Saat itu Mas Ozi lihat hewan itu bergerak di lantai, jadi cukup mudah menirukannya.

" Nda ular itu ngeri banget ya?", tanya Mas Ozi
"Kalau ular beracun bahaya. Nah, kalau lihat ular Mas Ozi mundur pelan-pelan. Kalau mas Ozi teriak atau lari malah bahaya. Jangan dekat-dekat ular ya"
"Heeh. Ngeri. Kalau dekat ayam boleh? Ayam kalau terbang kaya gini lho", Mas praktek
"Kalau bebek gimana?", tanya Nda
"Begini kali", mas ozi praktek jalan seperti bebek

Beberapa gerakan lain seperti burung terbang, ayam makan, dan kura-kura juga dipraktekkan. Kura-kura ini sendiri Mas Ozi pakai bantal di atas punggung sebagai tempurung. Sambil praktek, biasanya mas Ozi cerita.

Mas Ozi cukup semangat, tapi menjaga tetap fokus itu yang sulit. Tadi akhirnya kita sampai tentang astronot, bumki, oksigen, bahkan cara terbang pesawat 😁. Terakhir, mas buat jerapah dari lego. Hehehe

Ciri gaya belajar:
📃 bercerita dengan cepat dan keras
📃 cukup senang mempraktekkan gerakan
📃 belum bisa fokus untuk waktu yang lebih lama


👦 Adek

Kali ini Adek mengantuk. Jadi sambil ngantuk-ngantuk kesel tapi pengen ikutan, adek kadang senyum sambil tirukan suara mas Ozi. Biasanya sih ikut tirukan apapun yang Mas Ozi lakukan, karena ngantuk ya sudah, duduk manis aja.

Ciri gaya belajar Adek:
📃 peniru suara dan gerakan yang baik

Tiga hari menggunakan media tunggal sepertinya tidak lebih menarik dibanding menggunakan dobel media. Besok Nda berencana menggunakan buku dan boneka. Hmm... Kita lihat besok ya gimana ceritanya 😍


Sragen, 7 Desember 2018


#harike8
#tantangan10hari
#gamelevel4
#memahamigayabelajaranak
#kuliahbundasayang

Dec 6, 2018

Tebak suara!

Hari ini Nda pengen coba memberikan media belajar tunggal untuk Mas dan Adek. Mari kita dengarkan suara hewan-hewan, mencoba mengenalinya dan menirukan suaranya. Jadi media kita adalah media suara (audio) yang dibantu haf*z doll (bukan promosi loh ya). Setelah mendengarkan suara, lantas ada cerita khusus, dan diakhiri dengan ciri-ciri hewan tersebut.

Boneka hafiz ini digunakan sebagai pendahuan, selanjutnya Nda memberikan suara hewan tertentu dan Mas Adek menirukannya. Mereka bisa tidak ya? Bertahan berapa lama fokusnya? Berikut cerita belajar kami hari ini 😊

Mas dan Adek belajar menebak suara hewan


👨 Mas

Mas Ozi sudah biasa mendengar suara hewan ini. Kali ini dibuat berbeda karena Nda menjadi fasilitator untuk Mas membayangkan hewan yang diceritakan dan memberikan kesempatan untuk bertanya pada hal yang tidak dipahami.

"Nda, tidak heran itu apa?", tanya Mas Ozi.
"Apa ya... (beneran susah jawabnya). Mas ozi kan kadang bilang 'kok bisa ya?'. Nah, tidak heran itu ya Ozi gak bilang 'kok bisa ya lagi'", jawab Nda. Apakah ini dimengerti atau tidak ya 😂. Sebetulnya Nda menunggu pertanyaan tentang hewan, tapi tanya gitu tak apalah ya.
"Tak heran kalau unta bisa bertahan hidup di gurun", mas Ozi bergumam.
Hmmm... Rasanya masih ada yg mengganjal di pikirannya.
Saat itu Nda menunggu pertanyaan lanjutan dari Mas Ozi, dan berusaha memberikan jawaban terbaik. Semoga paham ya Nak 😍

Kami mendengarkan beberapa suara hewan pelan-pelan dan mengulangi lagi. Ini berjalan kurang 5 menit karena banyak serangga masum rumah. Serangga yang terbang ke sana kemari lebih menarik dibanding suara saja mungkin ya 😁

Ciri gaya belajar:
📃 berbicara keras untuk mengulangi apa yang dipelajari (memastikan benar)
📃 cukup kesulitan memahami jika hanya dalam bentuk suara
📃 cukup mudah terganggu jika ada hal lain yang lebih menarik


👦 Adek

Adek merupakan peniru ulung. Suara-suara hewan ditirukan dengan baik. Lucu sekali. Mirip dengan pola dan warna suara! Paling suka menirukan suara paus.

"Paus... Hau..hau...", tiru Adek sambil senyum
"Eh, besar atau kecil paus itu dek?", tanya Nda.
"Besar aneeeeetttt (besar banget)", jawabnya
"Guk guk... Suara anjing", kata Adek lagi.
"Tatut.. Didit (takut... Gigit)", lanjut adek lagi

Adek suka suara binatang. Doi lebih bisa bertahan lama dibanding Masnya. Kalau kesulitan menirukan suara suara, mulut Adek manyun 😂.

Ciri gaya belajar adek:
📃 cukup fokus dengan suara yang didengar
📃 dapat menirukan suara hewan sesuai warna dan pola suara
📃 berteriak untuk mengulang kembali hal yang dipelajari 


Alhamdulillah untuk hari ini. Awalnya 2 bocah ini cukup fokus dan semangat, namun ketika serangga mulai masuk rumah fokus terpecah. Setelah Nda mengamati, anak-anak lebih senang belajar dengan benda bergerak. Serangga-serangga itu dikejar ke sana kemari. Diamati bentuknya, ditanyakan namanya, dihitung kakinya, dan lain-lain. Cukup lama mereka melakukannya, seperti tidak bosan melakukan tiap hari 😊

Semangat belajar!
Besok belajar apa lagi ya? ❤


Sragen, 6 Desember 2018



#harike7
#tantangan10hari
#gamelevel4
#kuliahbundasayang

Dec 5, 2018

Tandai, yang manakah aku?

Sebenarnya penasaran bagaimana ya adek dan mas jika media belajar yang digunakan hanya visual. Ternyata fokus belajarnya tidak lama yaitu sekitar 5 menit melingkari dan bercerita.

Belajar dengan menandai hewan yang disebutkan Nda


👨Mas

Awalnya Mas bersemangat. Mas cari spidol yang disukai untuk menandai hewan yang Nda sebutkan. Mas dan adek melingkari gambar.

"Cari anak ayam", tanya Nda
"Nih..n ada 4 ni", jawab Mas
"Wah... Pinter berhitung. Kalau warna anak ayam.ada?"...

Banyak percakapan kami yang bertujuan mengeksplor gambar. Dari sini terlihat mas ozi bersemangat. Mas menceritakan semua hewan yang ada di gambar. Ketika semua gambar tereksplor dan mas ozi kehabisan bahan cerita, pergilah mas ozi mencadi kesibukan yang lain, hehe

Ciri gaya belajar :
📋 senang berbicara dengan suara keras
📋 cepat bosan jika tidak dikombinasikan dengan bergerak


👦 Adek

Sibuk adek memilih warna apa yang akan digunakan untuk menandai. Akhirnya terpilihlah warna biru. Bukan lagi menandai gambar, tapi adek menggambar sesukanya, hehehe...

" Adek, gambar anak ayam mana?", tanya Nda
"Nihhh..", jawab Adek sambil nunjuk gambar anak ayam
"Kalau anak sapi suaranya gimana?"
"Mowwwwww...", jawab adek keras-keras.

Fokus adek mencoret gambar, sampai Nda sesekali mengulangi pertanyaan. Si doi benar-benar menikmati goresan warna spidol di kertas, bagaimana garis tertabrakan satu sama lain, dan ini melatih kekuatan tangannya. Memang hanya 5 menit bertahan di depan meja, tapi 5 menit ini fokus dengan apa yang ada di depannya. Kemudian adek pergi main yang lain karena Mas ozi main mobil. Adek sudah mengenal semua nama hewan pada gambar termasuk suaranya. Alhamdulillah.

Ciri gaya belajar adek:
📋 fokus dalam mengerjakan hal baru walaupun tidak lama
📋 berbicara dengan suara keras
📋 berbicara sesuai gaya bicara yang diajarkan (misal suara sapi)


Alhamdulillah.... Bertambah lagi catatan Nda dalam mengamati gaya belajar Mas dan Adek. Sabar sampai hari ke 10 ya untuk menyimpulkan 😊


Sragen, 5 Desember 2018


#harike6
#tantangan10hari
#gamelevel4
#kelasbunsayinternasional

Dec 4, 2018

Ikan, yuk makan!

Dalam hal belajar, mas dan adek selalu bersemangat. Kemarin mas dan adek belajar dengan memancing ikan mainan, maka hari ini mas dan adek mencoba kenalan dengan ikan beneran. Kebetulan tetangga depan rumah kami memiliki kolam ikan koi.

Mengenal ikan, khususnya koi, dengan cara memberi makan  merupakan belajar yg mengutamakan visual dan kinestetik. Sejauh ini, mas dan adek selalu enjoy jika belajar dengan berhadapan langsung benda asli dibanding hanya gambar. Bagaimana serunya kami belajar, berikut ceritanya.

Mas dan adek berkesempatan memberi makan ikan koi


👨Mas Ozi

Berbagai jenis ikan dapat kita sampai dalam kehidupan sehari-hari. Mas tahu ikan lele karena cukup sering makan. Nah, ketika dikenalkan dengan ikan koi, mulailah muncul banyak pertanyaan.

"Nda, ikannya bisa jadi besar gak?", tanya Mas
"Menurut Mas ozi gimana?"
"Bisa kalau makan banyak. Boleh dimakan?", tanyanya lagi
"Boleh. Tapi fungsi utamanya untuk hiasan, biar aquarium atau kolam ikannya cantik", jawab Nda
"Ah iya. Warnanya orange. Bagus ya"

Dan masih banyak pertanyaan lain. Mas adalah tipe orang yang senang sekali bertanya untuk hal-hal baru. Akan lebih senang jika bisa melihat dan menyentuh langsung bendanya. Bahkan malam ini sebelum tidur, doi bilang ingin coba naik perahu motor. Hehehe.

Ciri gaya belajar:
📃 belajar sambil berbicara untuk mengungkapkan rasa ingin tahu
📃 lebih senang belajar dengan objek asli sehingga bisa melihat dan menyentuhnya


👦 Adek

Melihat objek bergerak adalah hal yang paling adek sukai. Adek usaha berjinjit agar bisa melihat apa sih isi kolam ikan. Senangnya ketika terlihat banyak ikan berenang dengan warna cerah.

Adek berteriak menirukan kata-kata kami.
"Itan toi (ikan koi)"
"Itan mamam sini, ayok (ikan koi ke sini, makan)"
"Besar anet (ikannya besar banget)"

Anak kecil seusia adek selalu memberikan kesan sangat menarik pada hal-hal yang pertama mereka jumpai. Dan biasanya mereka mengingatnya untuk jangka waktu lama ketika itu benar-benar menarik perhatiannya.

Ciri gaya belajar:
📃 senang berbicara keras saat belajar
📃 menirukan apa yang orang lain katakan
📃 lebih senang melihat dan menyentuh objek asli

Beruntungnya kami, pas lihat ikan koi, si pemilik datang dan menawarkan untuk memberi makan ikan. Yee... Mas dan adik bisa tahu apa makanan dan cara makannya ikan. Ditambah diajak ke kolam ikan gurame dan koi yang sudah besar. Alhamdulillah. Rejeki ya dapat pengalaman bonus.

Besok siap belajar lagi 💪

Sragen, 4 Desember 2018

#harike5
#memahamigayabelajaranak
#tantangan10hari
#gamelevel4
#kuliahbundasayang

Dec 3, 2018

Ayo Pancing Ikan!

Sore-sore enak jalan-jalan ya apalagi kalau bisa mampir bakso atau mie ayam 😁. Sore hari kalau di pasar ada permainan anak-anak dan ada bakso. Pas dikasih tahu mau jalan-jalan, semangatlah duo bocil ini mandi dan minta baju yang bagus dan rapi lalu cuss lah kita ke pasar. Cari makan, main, sekaligus belajar.

Mas dan adek awalnya naik kereta dulu, lama sampai Nda yang nungguin bosan. Kemudian pancing ikan. Banyak sekali jenis hewan airnya. Seneng banget mas dan adek sampai mampir magrib gak mau diajak pulang. Jadi belajarnya kali ini mengenal hewan air dengan memancing berbagai model hewan. Jadi belajar dengan cara visual kinestetik. Hmmm... Gimana ya belajarnya tadi. Yuk kita ceritakan...

Mas dan Adek sangat menyukai aktivitas memancing ikan


👨 Mas Ozi

Ketika melihat ada kolam ikan, Mas ozi langsung semangat lari duluan. Cari-cari pancing. Bilang sama Mas yang punya kolam mainan untuk boleh main. Ketika dapat pancing langsung duduk mulai memancing.

"Nda, ozi mau pancing ikan paus", katanya sambil tertawa.
"Mana ada paus?", tanya Nda
"Ada. Tu...", sambil nunjuk ikan paus.
"Eh iya ada ternyata ya".
"Ada gurita, ikan kuning, kura-kura, udang, kepiting,...", kata mas ozi samb menunjuk satu per satu dan masih banyak lagi jenis hewan air yang Ozi sebutkan.

Ternyata banyak sekali hewan yang sudah dikenal mas Ozi. Nda juga mengenalkan hewan air yang belum mas ozi paham, sambil sesekali memberi pertanyaan ciri hewan tertentu. Hanya yang masih perlu diluruskan nanti adalah beda bewan yang hidup di air tawar dan laut. Hmmm... Nda harus mikir nih gimana nanti caranya 😁

Mas terlihat sangat bersemangat. Sampai sering kali berdiri karena tak sabar menunggu ikannya berputar mengikuti arus air. Mas ozi juga belajar mengepaskan magnet pancing dengan ikan. Kemarin pas di Jepang beli mainan pancing ikan, tapi lebih seru ini karena lebih besar, banyak, dan ada airnya. Senangnya Mas Ozi memancing ikan hari ini  😍

Ciri gaya belajar:
📋 suka berpenampilan rapi
📋 mudah menghafal dengan bergerak dan melihat
📋 berbicara sambil menggunakan tangan untuk menunjuk

👦 Adek

Apapun yang masnya lakukan, adek merupakan peniru ulungnya. Mas nya semangat, adek juga tak kalah senang. Pancing diarahkan kesana kemari agar ada ikan yang terpancing. Berbicara keras-keras sambil sesekali berdiri ketika dapat ikan. Yee senangnya...

"Adek, itu dapat apa?", tanya Nda
"Umi-umi (cumi-cumi)", jawab adek
"Kalau mas dapat apa dek?"
"Uya-uya (kura-kura)"

Alhamdulillah adek sudah cukup banyak mengenal jenis hewan. Nda juga menambahkan  beberapa jenis hewan air. Adek terlihat enjoy. Lebih cepat menangkap apa yang dijelaskan Nda. Sepertinya cara belajar dengan banyak bergerak dan melihat lebih disukai adek. Kita cek beberapa hari berikutnya ya, apakah tetap sama.

Ciri gaya belajar:
📋 berpenampilan rapi
📋 lebih cepat menghafal dengan bergerak dan melihat
📋 menyukai aktivitas yang menyibukkan


Alhamdulillah belajar kali ini. Mencoba belajar dengan cara baru agar Nda bisa lebih paham gaya belajar Mas dan Adek. Besok kita lanjutkan. Yee. Semangat 💪


Sragen, 3 Desember 2018


#harike4
#tantangan10hari
#gamelevel4
#memahamigayabelajaranak
#kelasbundasayang


Dec 2, 2018

Ayo kenalan dengan Laron!

Hai! Namaku laron.

Setiap malam setelah hujan, laron akan lebih banyak keluar. Laron ramai terbang mengelilingi lampu atau sumber cahaya lain. Hmm... Mungkin di tempat kalian punya nama lain. Di tempat kami namanya laron, di tempat kalian namanya apa?

Mas dan Adek belum pernah melihatnya di Jepang. Pada awalnya Mas Ozi mengira hewan ini adalah capung. Jadi untuk kenal lebih dengan laron, kami belajar tentang laron. Kali ini strategi belajar lebih dominan ke kinestetik karena anak belajar dengan  bergerak mencari hal baru. Berikut belajar Mas dan Adek.

Hai, kenalan sama laron yuk!


👨Mas

Jika belajar dengan cara tangkap menangkap hewan, Mas Ozi semangat banget. Mau sejam lebih juga bisa. Lari-lari semangat tangkap laron dengan hati-hati agar sayapnya tidak lepas.

Mas mengidentifikasi ciri laron. Warna sayap laron, jumlah kaki, bentuk tubuh, bentuk sayap, kapan sayap lepas, dan lain-lain. Awalnya mas Ozi kekeuh kalau ini adalah capung, sampai.akhirnya nda googling gambar capung untuk memperlihatkan bedanya. Alhamdulillah akhirnya mas Ozi yakin kalau ini bukan capung.

"Oh iya. Beda.  Capung ekornya panjang", kata Mas.
"Beda kan ya. Terus apa lagi?", tanya Nda
"Sayapnya gampang lepas Nda. Warnanya coklat juga"
"Wah... Sip. Pinter Mas. Besok gak salah ya bedain laron dan capung", tegas Nda.

Ciri gaya belajar:
📌 lebih senang belajar melalui benda asli
📌 belajar dengan bergerak lebih mudah dibanding hanya melihat gambar atau mendengar penjelasan
📌 lebih senang aktivitas yang banyak bergerak

👦 Adek

Adek adalah orang yang selalu ada di belakang Mas Ozi. Apapun yang dikerjakan Mas, si doi akan senang mengikutinya. Menangkap serangga adalah kegemaran Mas, si Adek kadang maju mundur sih kalau mau ikutan. Tapi kali ini untuk laron, Adek tidak takut. Malah teriak kenceng kalau nemu laron.

Adek cukup paham (mengenal) laron. Hal ini ditunjukkan dengan benar menyebutkan mana laron dan capung. Alhamdulillah Adek tahu. Kalau untuk warna dan jumlah masih belum bisa. Semoga nanti segera bisa ya Nak. Yang terpenting senang dulu dengan proses belajarnya.

Ciri gaya belajar:
📌 fasih menirukan pola nada bicara
📌 lebih mudah  belajar dengan memegang dan melihat langsung objek belajar
📌 lebih senang belajar dengan banyak bergerak


Alhamdulillah untuk hari ini. Besok kita kenalan dengan lebih banyak hewan yuk!


Sragen, 2 Desember 2018


#harike3
#memahamigayabelajaranak
#tantangan10hari
#gamelevel4
#kuliahbundasayang

Dec 1, 2018

Menebak Nama Hewan

Hari ini Mas dan Adek kenalan dengan hewan melalui gambar. Mas Ozi memiliki semacam buku atau kartu hewan-hewan. Uniknya kartu ini juga memiliki pola dan dikelompokkan sesuai tempat tinggalnya.

Mas dan Adek belajar menebak dan mengenal hewan melalui gambar


👨Mas

Bukan pertama kalinya mas baca kartu ini, namun kali ini kami membuat kesepakatan beda. Nda sama Mas Ozi sepakat mengidentifikasi ciri-ciri hewan, tempat tinggal, dan makanannya. Awalnya Mas semangat, berbicara dengan keras dan menanyakan berbagai hal ke Nda. Namun mendengar suara Adek naik sepeda, si doi merasa tidak tenang ingin buru-baru kabur naik sepeda 😑

Mas Ozi juga lebih suka memegang kartu kemudian Nda pandu membaca satu per satu. Mas yang balik kemudian Nda pandu menanyakan hewan apa ini, berapa kakinya, warnanya apa, tinggal dimana, makannya apa, dan lain-lain. Sejauh ini mas Ozi bisa menjawab pertanyaan dengan baik.

Ciri gaya belajar:
📒 suka buku, tapi memilih dibacakan
📒 berbicara dengan suara keras
📒 mudah terganggu dengan keributan


👦 Adek

Adek selalu suka membolak balik kartu hewan ini. Mencari -cari hewan yang disukai. Berbicara keras dan memberitahukan beberapa kata tentang hewan yg ditunjuk.
"Dek, ini namanya apa?", tanya Nda
"Kicot", jawab Adek
"Punya umah (punya rumah), mbunyi (sembunyi), bulat (rumah siput bulat)", jelas Adek sambil nunjuk siput dan membuka kartu.
"Suara kodok gimana dek?", tanya Nda ketika adek menyebut nama kodok
"Ngoyeeekkkk", kata Adek sambil nyengir lihat Mas Ozi. Iya, mas Ozi yg mengajarinya kalau suara kodok itu 'ngorek', padahal itu lagu 😁
Semangat membaca buku kartu ini sekitar 5 menit setelah itu buku kartu ini digantung di sepedanya. Kabuuurrrr.... Sambil ketawa bawa bukunya 😁

Ciri gaya belajar:
📒 Suka membaca dengan suara keras
📒 fasih menirukan suara


Okelah. Besok kita lanjut belajar hewan yang lain ya. Hari ini fokus mengenal kodok, siput, dan ayam.

Semangat!

Sragen, 1 Desember 2018


#harike2
#tantangan10hari
#mengamatigayabelajaranak
#kelasbundasayanginternasional
#institutibuprofesional

Terbaru

Puasa di Negeri Sakura

Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang selalu dinanti bagi muslim. Bagaimana tidak, bulan ini penuh berkah semua kebaikan ak...

Populer